Thursday, May 20, 2010

Bakrie Lepas Lumpur Sidoarjo

15/03/2008 - 09:45
Bakrie Lepas Lumpur Sidoarjo
M Dindien Ridhotulloh

INILAH.COM, Jakarta - PT Energi Mega Persada (ENRG) mengantongi restu mengkonversi tagihan Minarak Labuhan Ltd kepada Kalila Energy Limited dan Pan Asia Limited menjadi saham. Artinya Grup Bakrie tidak lagi bertanggung jawab terhadap lumpur Sidoarjo.

Pemegang saham Energi Mega dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), Jumat (14/3), menyetujui itu konversi utang kedua anak usahanya yang juga pemilik Lapindo Brantas, yakni Kalila Energy dan Pan Asia kepada Minarak Labuan Co.

Utang yang dikonversikan dengan saham kedua perusahaan itu mencapai US$ 17 juta dari total utang Kalila dan Pan Asia sebesar US$ 30 juta. Dengan konversi ini, saham Energi Mega di kedua perusahaan itu terdilusi menjadi 0,01% di masing-masing perusahaan.

"Sementara kepemilikan Minarak masing-masing menjadi 99,9%," papar Christian V Ponto, Dirut Energi Mega Persada usai RUPSLB. Pasca konversi, Minarak menjadi pemilik 99,99% saham di Kalila dan Pan Asia sedangkan ENRG hanya memiliki minoritas saham di induk Lapindo tersebut.

Restu kepada Energi Mega telah dikeluarkan Badan Pengawas Pasar Modal-Lembaga Keuangan (Bapepam-LK). Sehingga Energi Mega kemudian diperbolehkan melaksanakan RUPSLB karena tidak melanggar peraturan.

Penilaian terhadap konversi tagihan itu diteliti Bapepam LK karena ENRG merupakan salah satu perusahaan yang akan diakuisisi Bakrie & Brothers (BNBR) dengan menggunakan dana dari hasil penawaran umum terbatas dan pinjaman.

Meski izin untuk RUPSLB ENRG telah terbit, Bapepam LK masih memfinalisasi izin right issue BNBR. "Persetujuan Bapepam LK untuk RUPSLB ENRG langkah positif menuju rencana Grup Bakrie yang lebih besar yaitu akuisisi saham BUMI, ELTY, dan ENRG oleh BNBR lewat kombinasi right issue dan pinjaman," ungkap Trimegah Securities dalam risetnya.

Akuisisi ini akan menjadikan BNBR sebuah mega holding company dengan eksposur yang lebih besar ke sektor sumber daya alam dari batu bara (PT Bumi Resources Tbk), CPO (PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk), dan minyak bumi & gas (PT ENRG).

Sementara Investor Relations Energi Mega Herwin Hidayat mengatakan, dengan dilepasnya Lapindo, performa perusahaan akan lebih baik. Diperkirakan, tahun depan bisa tumbuh hingga 35%. Debt equity ratio juga bakal mengalami peningkatan hingga 90%.

Christian V Ponto juga memaparkan target produksi migas perseroan yang meningkat 30-35% pada 2008 jika dibandingkan 2007. Sehingga produksi migas mencapai 32.000 barel setara minyak per hari pada 2008 dibanding tahuh lalu yang mencapai 24.200 barel.

Tahun ini Energi Mega menyiapkan modal belanja US$ 250 juta yang akan dialokasikan untuk mendanai proyek-proyek migas. "Anggaran ini naik 10% dibandingkan anggaran belanja 2007 sejumlah US$ 225 juta. Perseroan dan anak-anak usahannya masih membutuhkan dana dari kreditur untuk mengembangkan blok-blok migas," katanya.

Pemegang saham juga memutuskan untuk menjaminkan seluruh atau sebagian besar aset dan/atau kekayaan perseroan, di samping kemungkinan untuk menerbitkan jaminan perusahaan dalam rangka pendanaan (financing). "Keputusan ini bertujuan agar perseroan tetap menjadi dominant player di tengah melonjaknya harga minyak mentah dunia," papar Christian. [I4]



No comments:

Post a Comment